Posted by: jsofian | June 10, 2007

Mencari Bentuk Ideal Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.


pangkalpinang-map-juni07.jpg

Kota Pangkalpinang dilihat dari Satelit dengan Google Earth

(sebuah keprihatian, kritik, ide kecil, uneg2, … untuk prestasi Pulau Bangka-Belitung sebagai peringkat kedua dalam kerusakan lingkungan)

“Setiap kembali ke Bangka hati saya selalu miris melihat kondisi geografi pulau Bangka dari angksa, danau ciptaan manusia bertebaran dimana2, sebagai akibat dari penambangan Timah baik secara resmi maupun liar. Seolah2 tidak ada yang peduli dengan nasib alam yang telah memberikan nilai ekonomis kepada manusia….Habis manis sepah dibuang.. setelah hasilnya dikuras sehabis2nya ditinggalkan begitu saja. Siapakah yang harus menjawab dan disalahkan ? Rumput yang bergoyangpun engan untuk menjawab”

Konsep tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibiliy (CSR), muncul sebagai akibat adanya kenyataan bahwa pada dasarnya karakter alami dari setiap perusahaan adalah mencari keuntungan semaksimal mungkin tanpa memperdulikan kesejahteraan karyawan, masyarakat dan lingkungan alam. Seiring dengan dengan meningkatnya kesadaran dan kepekaan dari stakeholder perusahaan maka konsep tanggung jawab sosial muncul dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang. Tanggung jawab sosial perusahaan dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu konsep yang mewajibkan perusahan untuk memenuhi dan memperhatikan kepentingan para stakeholder dalam kegiatan operasinya mencari keuntungan. Stakeholder yang dimaksud diantaranya adalah para shareholder, karyawan (buruh), kustomer, komunitas lokal, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lain sebagainya.

Penerapan tanggung jawab sosial perusahaan saat ini.

Dalam pengamatan saya, tanggung jawab sosial perusahaan sering didefinisikan secara sempit sebagai akibat belum tersosialisasinya standar baku bagi perusahaan. Tanggung jawab sosial perusahaan masih anggap sebagai suatu kosmetik belaka untuk menaikkan pamor perusahaan atau menjaga reputasi perusahaan di masyarakat. Oleh karenanya ada asumsi jika perusahaan sudah memberikan sumbangan atau donasi kepada suatu institusi sosial berarti sudah melakukan tanggung jawab sosial sebagai sebuah perusahaan.

Kembali menurut saya, penerapan dan isu tanggung jawab sosial perusahaan yang saat ini baru dilakukan diantaranya adalah

1. Pengaruh dari globalisasi dan internasionalisasi yang memaksa perusahaan untuk dapat menerapkan fungsi tanggung jawab sosial perusahaan. Bentuk globalisasi dan internasionalisasi ini dapat berupa tekanan dari pihak ketiga ( distributor, buyer, client, dan shareholder ) yang menjadi bagian atau mitra kerja dari perusahaan lokal. Mereka dapat menetapkan suatu kondisi yang harus diikuti oleh perusahaan lokal dalam memenuhi tanggung jawab sosialnya. Kondisinya ini biasanya dialami oleh perusahaan yang berada di negara miskin dan berkembang dimana memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi kepada investor dari negara maju. Pernah seorang temen bercerita bahwa Buyer mereka yang dari Jepang mau memberikan order JIKA perusaaan mendirikan toilet yang memadai bagi karyawan perusahaan yang berjumlah ribuan. Karena menurut buyer tersebut toilet pabrik sangat tidak memadai baik dari jumlah dan kualitasnya. Yah..terpaksa perusahan mengikuti daripada kehilangan order.

2. Ditinjau dari jenis perusahaan, umumnya yang menjalankan fungsi tanggung jawab sosial adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha ekplorasi alam (tambang, minyak, hutan). Perusahan tambang lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat dibandingkan dengan perusahaan non tambang (terutama LSM). Perusahaan tersebut diwajibkan untuk melakukan penyeimbangan sebagai dampak dari eksplorasi yang dilakukan seperti melakukan reklamasi alam, reboisasi, mendukung pencinta alam, berpartisipasi dalam pengolahan limpah dan sebagainya. Kenyataannya apakah perusahaan tersebut benar-benar menaruh perhatian terhadap alam dan lingkungan sekitarnya, bukankah mungkin tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan hanya sebagai kedok untuk melegalkan dan mengamankan kegiatan perusahaan sehingga tidak dikritik oleh masyarakat.

3. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang biasanya dilakukan adalah pemberian fasilitas kepada para pekerja atau buruh. Kenyataannya bahwa pemberian fasilitas baru akan terealisasi jika adanya ancaman mogok atau unjuk rasa dari para buruh. Ini berarti tanggung jawab sosial perusahaan terhadap para buruh didasarkan sebagai suatu negosiasi antara manajemen dengan para buruh. Manajemen tentunya akan memperhitungkan dampak yang ditimbulkan dengan adanya ancaman tersebut jika dinilai akan merugikan perusahaan maka (biasanya) tuntutan akan direalisasikan.

4. Bentuk lainya dari tanggung jawab sosial perusahaan sebatas pemberian sumbangan, hibah, bantuan untuk bencana alam yang sifatnya momentum. Musibah, bencana, atau malapetaka yang terjadi dapat dijadikan sebagai momentum bagi perusahaan yang membentuk citra dan reputasi baik di mata masyarakat.

Masih banyak contoh penerapaan tanggung jawab sosial perusahaan pada saat ini yang bertujuan untuk memenuhi persyaratan atau mengikuti aturan main supaya perusahaan dapat tetap menjaga citra dan existensinya di hadapan para stakeholdernya.

Kritik terhadap Tanggung jawab sosial perusahaan

Dari beberapa fakta diatas kritik saya sebagai warga negara terhadap penerapan tanggung jawab sosial perusahaan adalah:

1. Perspektif tanggung jawab sosial perusahaan sering dijadikan atribut bagi perusahan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan caranya mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh masyarakat, asosiasi, dan pemerintah. Seperti perusahaan tambang, perusahan kayu, perusahaan pengelola hasil bumi, dan sejenisnya. Dampak yang ditimbulkan perusahan tidak seimbang dengan usaha untuk merehabilitasi alam.

2. Untuk bisnis tertentu, tanggung jawab sosial perusahaan dapat dijadikan perisai sebagai penetralisir dampak dari bisnis yang dijalankan sekalipun bertentangan, misalkan perusahaan rokok sebagai sponsor event olah raga. Sekalipun masyarakat mengetahui bahayanya rokok di lain pihak masyarakat membutuhkan olahraga.

3. Ada kalanya tanggung jawab sosial perusahaan dapat menjadi bumerang bagi perusahaan itu sendiri walaupun sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Misalkan yang terjadi pada perusahaan fast food Mc Donal, pada awalnya tanggung jawab sosial perusahaan disosialisasikan secara menyeluruh kepada dunia mengenai keterlibatan Mc Donal dalam memperhatikan anak-anak, pendidikan dan kehidupan sosial di masyarakat. Tetapi Mc Donal justru menuai demo dari para pencinta binatang karena dianggap pembunuh ayam yang kejam, iklan yang menyesatkan, dan praktek bisnis yang tidak sehat.

4. Bagi perusahaan investor dari negara maju, adanya regulasi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan yang ketat dapat menjadi alternative untuk berpindah ke negara yang memiliki regulasi tanggung jawab sosialnya lebih longgar. Dilema ini yang dihadapi oleh negara miskin dan berkembang, jika terlalu ketat maka otomatis investor akan mengurungkan niatnya berinvestasi tetapi sebaliknya jika terlalu longgar akan merugikan rakyat dan lingkungan alam.

Perusahaan yang berhasil dalam penerapan tanggung jawab sosial jumlahnya relatif sedikit karena mendapatkan kepercayaan dari para stakeholder harus diuji melalui waktu. Komitmen dan konsistensi yang dilakukan oleh perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial akan terlihat hasilnya secara bertahap bukan secara instan. Best practice perusahaan yang berhasil adalah The Body Shop, justru karena berfokus kepada kepentingan public, kekerasan dalam keluarga, kesehatan ibu dan anak, bencana alam, dan kegiatan sosial lainnya, perusahan ini sukses merebut perhatian dari para pelangganannya.

Mencari Bentuk Ideal Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.

Bagaimana mencari format ideal tanggung jawab sosial perusahaan sehingga dapat diperoleh mutual benefit antara perusahan dengan stakeholdernya?. Untuk mendapatkan format ideal tanggung jawab sosial perusahaan, beberapa hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Perusahan harus melakukan gap analisis antara apa yang ideal harus dilakukan dengan apa yang telah dilakukan (existing) saat ini. Hasil dari gap analisis ini dapat menjadi acuan bagi perusahaan untuk mendapatkan solusi yang benar-benar dibutuhkan sehingga kehadiran perusahaan tersebut memberikan dampak positif bagi stakeholder.

2. Konsistensi dalam menjalankan komitmen harus menjadi bagian dan gaya hidup dari semua level manajemen perusahaan. Oleh karenanya tanggung jawab sosial perusahaan harus menjadi bagian dalam strategic plan perusahaan mulai di mulai dari penentuan visi, misi, strategi, core belief, core value, program, penyusunan anggaran sampai kepada evaluasi. Tujuan dengan adanya strategic plan ini adalah untuk menjaga kesinambungan perusahaan di masa yang akan datang. Di dalam strategic plan faktor tanggung jawab sosial harus menjadi bagian dari road map perusahaan dalam rangka mencapai good corporate governance (GCG). Untuk mengevalusi penerapan strategic plan ini diperlukan tool yang dapat menjadi dashboard perusahaan di dalam menilai kinerja yang dihasilkan. Tool yang digunakan dapat berupa metode balanced scorecard atau hanya penerapan key performance indicator disetiap objektif yang ingin dicapai.

3. Sudah saatnya tanggung jawab sosial perusahaan dikelola oleh suatu divisi tersendiri secara professional sehingga pertanggungajawaban terhadap manajemen dan stakeholder dapat transparan dan terukur kinerjanya. Divisi ini diberikan otoritas untuk dapat memutuskan secara cepat dan tuntas semua perkara (isu) yang berhubungan dengan para stakeholder. Divisi ini harus dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah sebagai regulator, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi yang berhubungan, dan masyarakat sehingga keputusan yang diambil dapat mengakomodir semua kepentingan. Dalam prakteknya staff dari divisi ini dapat diisi oleh personal dari berbagai perwakilan yang ada di stakeholder.

4. Idealnya, pemerintah juga harus memiliki department yang berfokus untuk menagani regulasi tanggung jawab sosial perusahaan sehingga dapat menjadi mediator dan fasilitator bagi semua pihak yang berkepentingan. Fungsi lainnya dari department ini adalah sebagai auditor yang memberikan rangking dalam periode tertentu bagi semua perusahaan sesuai dengan bidang dan kelasnya, dengan adanya ranking ini memicu perusahaan untuk serius menangani masalah tanggung jawab sosial perusahaan. Departemen ini harus juga melibatkan institusi pendidikan dan akademisi untuk menjaga transparansi dalam proses audit.

5. Pada era teknologi saat ini, peranan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah menjadi keharusan bukan lagi sebagai pendukung perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan dapat memanfaatkan TIK semaksimal mungkin untuk menciptakan proses yang efisien, efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Misalkan dengan menggunakan software, internet, portal, dan teleconference sebagai alat komunikasi dengan stakeholder yang terintegrasi dengan proses bisnis yang ada dalam perusahaan.

Sudah saatnya setiap perusahaan memberikan perhatian yang serius kepada masalah tanggung jawab sosial, karena terbukti tanggung jawab sosial perusahaan memiliki peranan yang signifikan dalam keberhasilan perusahaan di masa yang akan datang. Disamping itu, tanggung jawab sosial perusahaan dapat menyeimbangkan perusahaan dalam mencapai tujuan komersil dan tujuan non komersial.

About these ads

Responses

  1. Saya setuju dengan ide-ide..terutama Gap Analisis…cuma kadang-kadang iklim dunia pemerintahan kurang sehat, karena terkadang perusahan dituntut untuk kerja instan, padahal semua itu punya proses…ya engk lae?..

    Scrly,

    Hery Chrisnoadji/GEA & External Relations Dept. Head
    Si Jabat = si Jawa Batak…

  2. saya setuju apa lagi ada divisi khusus ditiap perusahaan mengenai csr, apa lagi banyak sekali perusahaan yang kurang/tidak memperhatikan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan perlunya sosialisasi uu pt csr kepada masyarakat agar masyarakat dapat menyikapi perusahaan yang kurang/tidak memperhatikan tanggung jawab sosial tersebut.
    pertanyaannya bagai mana dan kapan disosialisasikannya uu pt tentang csr tersebut ?

    chaudry za, univ yarsi fhuy 05

  3. CSR adalah sebuah kebutuhan pembangunan, jika kita memandang bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memikul beban pembangunan, khususnya pembangunan bidang sosial budaya. Saya berharap setiap perusahaan menengah-besar memiliki unit organisasi yang bergerak dalam CSR. Dalam hal ini, orang-orang antropolog-sosiolog perlu diberi tempat dalam keterlibatan CSR.

    Staf Pengajar Fakultas Sastra UNEJ
    Penulis buku-buku maritim.

  4. saya setuju dengan jonathan. Memang perusahaan-perusahaan banyak yang menerapkan konsep CSR hanya untuk mengikuti trend yang saat ini tengah mencuat sehingga penerapan yang dilakukan hanyalah bersifat formalitas, dan hasilnya sangat kecil terasa bagi masyarakat sekitarnya. contoh yang dapat dilihat adalah penerapan konsep CSR oleh Lapindo, bukannya mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat tapi malah memberikan beban masalah lumpur. selain itu, dana ganti rugi yang 80% berikutnya masih tersendat-sendat juga.
    Melihat hal yang seperti ini perlu sekali memodifikasi perilaku para stakeholdernya agar dalam menerapkan konsep CSR tidak hanya bersifat formalitas. Perlulah sekiranya melihat salah satu makhluk di alam yang memiliki kehidupan sosial sosioekonomis yang seimbang dan sempurna. Hubungan antara yang satu dengan yang lain sangat sinergis sehingga profitnya pun sangat tinggi. Lebah madu memiliki organisasi sosial yang sangat tersistemasi dengan baik, dengan begitu madu (dianalogikan sebagai profit) didapatkan secara cukup bahkan lebih.

  5. salam kenal bwt bpk Jonathan..
    saya tertarik dgn tulisan2 bpk mengenai pulau bangka. kayanya bisa jd guru diskusi yg baik nieh dalam membahas permasalahan2 prov.Babel. saya saat ini membutuhkan banyak informasi pak.. utk bahan skripsi… bru mw usul penelitian c pak (hehehe… curhat pak..). klo bisa saya boleh minta no kontak bpk? balesnya ke e-mail saya ya pak..
    terimakasih untuk perhatian bapak.

    Novalia_mahasiswi tingkat IV
    FISIP UNPAD_Ilmu Pemerintahan

  6. @hery @zafar @kusnadi @Muhammad
    trims atas masukan dan komentar Bapak2

    @nova
    silakan buka emailnya

  7. pak.. saya udh buka email..
    tapi ga ada..maaf ya pak..
    tolong bisa dikirim ulang ya pak..
    terima kasih banyak…

    GBU

  8. say setuju dengan CSR yang mulai berkobar di negara merah putih ini,,,trapi lebih akan bermanfaat apabila csr yang ada bukan hany sekedar bersedekah untuk mendapat iamge positif PUBLIC………untuk dapat menjadikan program CSR bisa berkelanjutan, perlu di audit lohhhhh….yoben jelas terARAH…kagak nyelentang

  9. sudah saatnya CSr diketahui oleh masyarakat secara luas, sehingga mereka tahu dan mengerti. perusahaan bukan sapi perahan, masyarakat bukan anak kecil, pemerintah bukan orang tua yang tidak bertanggung jawab.
    sehebat apapun konsep CSR tanpa itikad baik pemerintah maka hanya akan “jadi ladang baru/anggaran tambahan bagi pemerintah daerah khususnya”.
    coba lihat kasus implementasi CSR (CD LBD) Chevron Geothermal Indonesia Darajat di Kabupaten Garut – Jawa Barat.
    sungguh sangat memprihatinkan, pedahal itu adalah sebuah Big Corpotarion.

  10. CSR merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkaan dalam kegiatan organisasi, khususnya organisasi perusahaan. Perusahaan tidak sekedar berfikir untuk mengeksploitasi keuntungan tanpa ada kepedulian terhadap lingkungan sekitar. CSR bukan cost tapi merupakan investasi untuk mengembangkan perusahaan, baik dari sisi keamanan, kepedulian, termasuk kesejahteraan umum.

    Boleh jadi sukses dicapai oleh suatu perusahaan, tidak semata – mata karena kepandaian manajemennya semata, tapi boleh jadi karena banyaknya do’a yang terpanjat dari lingkungan sekitar untuk perusahaan tersebut.

  11. sangat menarik mengupas keprihatinan mas sofian… terutama mengenai “konsistensi dan menjadi gaya hidup” dalam merancang strategic plan korporasi… selain itu, menurut saya penting juga menjaga agar makna filosofi dari CSR itu sendiri tidak bermetamorfosis dengan makna-makna lainnya….

    salam kenal mas….

  12. @yusep, @Dede, @David: trims atas komentar dan kunjungannya..

  13. seperti yang telah dikemukakan diatas, suatu perusahaan atau industri tidak hanya mewujudkan CSR sebagai suatu tools yang dapat menunjang kberlangsungan industri mereka. tidak hanya sekedar melakukan saja tetapi perlu adanya standar yang telah ditetaokan sedemikian rupa sehingga pelaksanaannya tidak asal-asalan.
    telah kita ketahui, pelaksanaan CSR sendiri juga telah ditetapkan standarnya yakni ISO 26000 namun karena standar ini masih baru masuk ke Indonesia sehingga kajian terhadap standar ISO ini perlu dikaji lebih dalam

    Terima Kasih kepada author, saya bisa menambah pengetahuan baru terhadap CSR ini

    • trims Princess :)


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 292 other followers

%d bloggers like this: