Posted by: jsofian | August 18, 2008

Budaya “Upload” Guru Atasi Kesenjangan Pendidikan


Pikiran Rakyat, Bandung, 18 Agustus 2008

Para Guru yang tergabung dalam Asosiasi Guru dan Penulis (AGP) Jawa Barat diimbau untuk memberikan sumbangan nyata dalam bentuk pengisisan content (upload) pada situs berbasis pendidikan Crayonpedia. Hal ini tercetus dalam diskusi dan workshop mengenai sosialisasi Crayonpedia pada AGP di Aula Redaksi Pikiran Rakyat, Sabtu (16/8).

Pada kesempatan itu, rombongan AGP Jabar yang terdiri atas sekitar 30 guru, diterima Wapemred “PR” H. Budhiana. “Sebagai langkah awal, baru guru anggota AGP, namun untuk jangka panjang kami berharap bahwa semua tenaga pendidik mampu menyumbangkan tulisan sebagai materi ajar kepada siswa,” kata Ketua AGP PGRI Jabar, Arief Achmad. Crayonpedia sendiri merupakan ensiklopedia berbasis pendidikan yang dikerjakan oleh dan untuk komunitas pendidikan.

Hal tersebut, menurut Arief, merupakan salah satu alternatif terbaik yang dapat ditempuh untuk menyinergikan kebutuhan siswa terhadap ilmu pengetahuan yang semakin luas dan perkembangan teknologi. “Pengetahuan siswa selalu berkembang, makanya guru juga tidak boleh ‘gaptek’ (gagap teknologi). Karena ilmu bersifat global, maka internet bisa dikatakan pintu gerbang.”

Lebih lanjut, Arief mengatakan behwa para guru diharapkan bisa menjadi ujung tombak didalam pengisian content situs sehingga para siswa selalu mendapatkan pengetahuan terkini dan terlengkap, sebagai alternatif dari buku pelajaran. “Terkait dengan pelarangan peredaran buku di sekolah, saya mendukung penuh para siswa untuk memanfaatkan situs Crayonpedia sebagai alternatif sumber pengetahuan,” kata Arief. Dengan adanya situs Crayonpedia yang selalu diperbaharui oleh tenaga pendidik, para siswa diharapkan tidak lagi bingung mencari referensi sumber materi ajar, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT).

Kendala

Namuan, Arief juga masih melihat beberapa kendala yang melingkupi perkembangan situs pendidikan tersebut. Kendala itu adalah biaya akses internet yang relatif masih mahal dan fasilitas internet di sekolah yang masih terbatas. Untuk itu, Arief mendesak pemerintah untuk memberikan kontribusi dalam hal penyediaan internet secara gratis.

Minimnya fasilitas internet di sekolah juga diakui salah satu sekolah yang menjadi projek percontohan, SD Anni’mah Margahayu Kab. Bandung. Menurut Kepala Divisi Teknologi Informasi Rinaldi, S.E, kemampuan sekolah untuk mengakses dan memperbaharui situs masih terganjal beberapa kendala, terutama akses internet dan fasilitas komputer. “Disekolah kami, guru mengajar penuh, jadi waktu untuk mengakses internet dan mengisi content juga terbatas, lagipula untuk menggunakan komputer harus bergantian dengan dengan siswa,” kata Rinaldi.

Untuk itu, SD Anni’mah memberikan solusi dengan memadatkan pelajaran yang menggunakan fasilitas komputer. (CA-175)

About these ads

Responses

  1. Wah, orang Bangka juga ye ?

    Sudah lihat SUPERPEDIA Bang ?
    Di http://superpedia.rumahilmuindonesia.net

    Salam,

  2. yah..selamat berkarya..pak


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 292 other followers

%d bloggers like this: