Posted by: jsofian | March 27, 2007

Seminar “Mendidik Anak Secara Benar”


Ketika seorang pemimpin komunis Rusia ditanya bagaimana menanamkan loyalitas kepada para pengikut Anda? Jawaban yang cukup mengagetkan saya, katanya “berikan saya anak dibawah lima tahun, saya akan didik dan saya jamin anak ini akan loyal sampai dia mati kelak”.   Pemimpin komunis itu tahu benar bahwa karakter seseorang ditentukan dari pendidikan yang diperoleh semasa anak itu kecil.

Mendidik anak ternyata membutuhkan banyak perhatian dan kasih, anak adalah peniru yang paling ulung, apapun yang dikerjakan oleh orang tuanya itulah yang ditiru dan dianggap benar.  Saya mengalami itu semua dengan si kecil Keevan, apapun yang kira bicarakan, yang kita lakukan, dengan sekejab si kecil bisa mengikuti. Terkadang kita sebagai orang tua terheran-heran dari mana anak kecil berumur 2 tahun dapat belajar ngabek, marah, teriak2, suka melempar mainan, dsb. Cobalah cek dilingkungan sekitarnya termasuk dengan baby sitter, teman bermain, dan perilaku kita sebagai orang tua. Ternyata sebagian besar model perilaku anak diperoleh dari linkungan sekitarnya.

Tema” mendidik anak secara benar” menjadi topic dalam seminar kemaren di Gereja GBI Tanjung Duren.  Inti dari seminar itu adalah sebagai berikut:

  1. Ajarkan anak2 sesuatu yang benar secara berulang-ulang (II Tim 1:3-6; 13), sehingga anak2 tahu mana yang benar dan tidak benar. Misalkan cara berpakain, makan, tidur, bermain,  jangan lupa ajarkan untuk berdoa senantiasa sehingga menjadi gaya hidup setiap hari.
  2. Jangan memarahi anak secara berlebihan karena akan berdampak anak menjadi takut dan tertekan. Si anak TIDAK pernah tahu apa yang dilakukannya benar atau salah, yang dia tahu melakukan apa yang dia suka. Oleh karena itu tugas kita dengan sabar dan kasih memberitahukan mana yang salah dan mana yang benar.
  3. Terpenting adalah jadilah telandan buat anak2 kita dalam perkataan, tingkah laku, Kasih, displin, dan kesetian.
  4. Jangan lupa untuk memberikan penghargaan kepada anak jika mereka melakukan hal yang baik. Penekanannnya terletak pada alasan mengapa mereka mendapatkan penghargaa (pujian). Misalkan jika si anak dapat makan sampai habis..pujilah dia dengan mengatakan “ anak pintar/manis karena makannya habis” jangan hanya mengatakan anak pintar dan manis tanpa memberikan alasannya yang spesifik. Begitu juga sebaliknya jika si anak melakukan kesalahan, berikan alasan spesifik kesalahan yang mereka buat.

Memang secara teori mudah untuk dipahami, prakteknya yang penuh tantangan. Saya selalu belajar bahwa anak adalah anugerah yang luar biasa dari TUhan, untuk itu berilah yang terbaik buat anak2 kita. Pernah mendengar hasil survey antar Max Jukes dengan Jonathan Edwards? Silakan baca ceritanya.

Syallom..

 


Responses

  1. Iya betul.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: