Posted by: jsofian | October 4, 2007

Sepekan di Negeri Tirai Bambu


wisata-kuil.jpg

Minggu ini,saya mengunjungi China tepatnya di kota Wen Zhou (WZ). Ini kunjungan kali kedua ke China. Misi kali ini berkenaan dengan pengerjaan untuk pengembangan modul pelatihan untuk penggunan aplikasi pre paid electricity management system. Ditemani Pak Joni Andrean (CEO Ultra Smart) dan Pak Furandy Gunawan (CEO Juara Teknik), rencananya kami akan menghadiri beberapa pertemuan sehubungan dengan proyek yang sedang dikerjakan.

Hari pertama, seharian dihabiskan dalam pesawat, Jakarta – Guang Zho ditempuh dalam 4,5 jam, sesampai di Guang Zhou hari sudah menjelang sore. Kota Guang Zhou (GZ) adalah salah satu kota industi sangat maju dengan airport yang elegan. Waktu di Guang Zhou lebih cepat 1 jam dibandingkan dengan Jakarta. Setiba di airport, kami langsung meneruskan perjalanan ke kota Wen Zhou. Perjalanan dari GZ ke Wen Zhou hampir 2 jam dengan pesawat China Southern Airline. Kota Wen Zhou adalah kota kecil yang dikenal sebagai kota listrik karena hampir semua industri berkaitan dengan listrik. Menurut mereka kota WZ adalah kota yang kecil bagian dari Provinsi ZhiJiang, kecil bagi mereka ternyata tidak sekecil yang saya duga, saya menyebutnya WZ sudah layak sebagai kota metropolitan, kalo Surabaya kota ke dua terbesar di Indonesia, kota WZ mungkin diantara Surabaya dan Jakarta. Di pelosok kota tertata rapi, bersih, dan megah.

Orang-orang di China dikenal sebagai pekerja keras dan ulet, bagi mereka hidup adalah adalah kerja. Hari senin-minggu dihabiskan di kantor, jam kerja kantor rata2 mulai dari jam 07 pagi sampai dengan jam 5 sore. Hari libur dalam satu tahun hanya pada saat hari buruh 1 mei, hari kemerdekaan tanggal 1 oktober, dan hari tahun baru imlek,

Wen Zhou

dengan-mitra-kerja.jpg

Hari kedua, today is working day. Kami mengunjungi salah satu pabrik elektronik terbesar di WZ. Mendengarkan penjelasan dari project manager tentang aplikasi yang mereka design. Segala sesuatunya berjalan dengan baik kecuali kendala dalam komunikasi, orang2 disana sulit sekali untuk dapat berbahasa Inggris . Mandarinku pun masih dalam limited Edition, akhirnya komunikasi lebih banyak dilakukan dengan cara visual dan gambar. Selesai seharian di WZ, perjalanan dilanjutkan ke Hang Zhou di keesokan harinya. Sedikit mengenai kota ini, menurut temen2 di sini dari kota kecil inilah banyak melahirkan konglomerat2 China yang super kaya di dunia.

Hang Zhou

Perjalanan dari WZ ke Kota Hang Zhou (HZ) ditempuh dalam 6 jam sekitar 400 an km (seperti Jakarta – Semarang), kota HZ adalah ibu kota propinsi Zhijiang. Kota metropolitan ( dibaca Mega Metropolitan) ketiga terbesar di China. Perjalanan kami ditemani oleh Mr. Andi Ma ( Managing Director dari Marco Genuine Parts Co.,Ltd) dengan mengendari mobil Buick yang nyaman. Menuju kota HZ dua kota persinggahan yaitu Kota Tian Ti dan Kota Cheng Zhou. Menarik perhatian saya di sepanjang jalan adalah infrastruktur jalan tol yang luar biasa, belasan terowongan yang membelah gunung kami lewati dan jembaran yang panjang membelah sungai dan laut. Jam 18, tibalah kami di hotel Home Inn yang berada ditengah kota HZ.

sihu-lake.jpg

Di kota HZ, di tengah kesibukan akvitas kerja..kami menyempatkan berkunjung di West Lake ( Si Hu) yang menjadi legenda cerita si Ular Putih. Pemandangan dan udara yang bersih membuat kami terpukau dan betah berleha-leha ditepi danau sekedar memanjakan mata dan hati. Selepas dai Si Hu, kami menuju airport menuju kota GZ kembali.

peking-steet.jpg

Di kota GZ, kota yang terkenal dengan shopping city yang menjadi impian bagi kaum hawa untuk memuaskan hasrat belanja. Terus terang, kami tidak begitu anthusias untuk berbelanja hanya membeli yang butuh saja. Ditengah2 shoping center ada sebuah jalan bernama Peking Street, panjangnya sekitar  10 meter yang di”keramat” kan . Pasalnya jalanan tersebut adalah jalanan ASLI dari Dinasti Ming (1368-1644 AD), batu2, tanah, komposisi letak, dan retakan tanah tetap utuh selama berabad2. Hiburan tersendiri di tengah2 hiruk pikuknya orang berbelanja.

Tibalah saatnya kami kembali ke tanah air setelah sepekan berada di negeri orang. Secara pribadi, saya menyimpulkan bahwa tinggal di Indonesia (khususnya di Bangka) jauh lebih nikmat, dampak di globalisasi membuat sebagian orang menjadi materialistis, egois, minimnya toleransi dengan sesama, ditambah lagi makanannya yang berminyak dan asinnnn banget.

Kerinduan pulang ke rumah pun semakin terasa ketika alunan lagu Michael Buble …. (he..he sok melankonis🙂 )

Another aerorplane
Another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
I got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

 


Responses

  1. Keren…
    Tapi merasa lebih enak di negeri sendiri (Bangka) ya?
    Oh ya, Jakarta-Semarang kurang lebih 500 km.

    GBU

  2. Thew Ka,

    Ade berita baru ape dari blog ka ni? Selain con kwet due kali ade berita ape agik?
    Minggu kemarin ngai con Pinkong ade rombongan dari Cungkwet yang
    datang ke Bangka. Tau dak jorang nek ngape? Denger-denger jeorang nek – entah baru survey entah langsung kerja – yang name a “deep mining” ngambik batu timah ratusan/ribuan meter di bawah tanah.

    Mati loh Bangka kite ni kene kurik terus. Kulong-kulong pada terbentuk di
    mane-mane. Kini datang pulik thongsanloy ngurik lebih dalem agik. Kelak
    kesude a Bangka kite nih pacak tenggelem abis wo…

    Apakah Bangka tambah makmur? Entahlah kiok mane yang makmur dan kiok mane yang ancok. Yang terang para penerima gaji tetep dan para pencari kerja akan semakin susah idup a. Barang-barang jadi mahal tapi
    nyari duit makin susah…

    Lalu kompleks pasar Hebe/Banteng mau dibongkar abis untuk dijadikan BTC supermal. Orang kecit bejual di kaki lime diburu abis. La susah nyari makan tambah susah agik. Kalo orang kecit dak beduit lalu sape bakal belanje di supermal itu? Yang beduit pulang-pergi Jakarta dan belanja di Jakarta dan ngoi kwet. Yang penthi dak beduit kek blanje di Mal. Akibat a Mal pacak khep tew… Lalu?
    Investor dijamin asuransi Bank, pokok a duit pacak kembali. Pemkot dapat name dan dapet khang thew sebelum diganti pak Wali yang baru. Yang untung ujung-ujung a sape??? Ku pening mikir Bangka nih.

    Juswan, Jakarta


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: