Posted by: jsofian | April 11, 2008

Dilema Programmer “Green” Pemula


Beberapa hari yang lalu, saya menjadi pendengar setia dari diskusi santai antar temen beberapa diantaranya masih “Green” fresh graduate dan ada juga yang sudah berkecimpung sebagai programmer sebut saja “Blue”. Diskusi ini mengingatkan saya ketika baru mengenal dunia programming sekitar satu dekade yang lalu. Dunia programming sendiri kebanyakan dilakukan oleh orang yang memiliki latarbelakang sebagai programer baik belajar otodidak atau dibangku kuliah. Nyata sekali perbedaan antara yang sudah pernah mengerjakan real proyek dengan yang hanya mengenal di bangku kuliah. Masalah klasik yang sering dihadapi ketika para programmer mendapatkan pekerjaan untuk membuat aplikasi bagi usaha kecil secara personal. Kalo dianalisa sebenarnya 2 sudut pandang yang berbeda antar klien dan programmer ketika kejadian diatas muncul, masing2 memiliki obyektif yang berbeda.

  • Dari sisi klien ingin menghemat biaya sehemat2nya dengan menghire para programmer yang baru lulus. Klien pada dasarnya percaya bahwa aplikasi penerapan aplikasi dapat menciptakan efisiensi (cost effectiveness) dalam proses bisnis mereka TAPI kemampuan dan kerelaan untuk membayar masih menjadi batu sandungan bagi mereka. Sehingga yang dilakukan klien menekan harga seminimal mungkin dan jangka waktu termin pembayaran semaksimal mungkin, bahkan ada pembayaran baru dilakukan setelah aplikasi selesai. Jika tidak ada titik temu, mereka masih bisa berdalih “ kami sudah menjalankan usaha ini bertahun2, tanpa ada komputer pun kami tidak bisa untung”. Jadi posisi klien yang menentukan besar kecilnya nilai proyek dan lamanya waktu pengerjaan.
  • Dari sisi programmer , ketika mendapatkan tawaran pekerjaan (apalagi baru pertama kali) perasaan suka cita meluap2 sehingga lupa untuk menghitung biaya dan nilai dari pekerjaan yang ingin diajukan. Nilai pekerjaan biasanya tidak menjadi faktor yang penting apalagi mendapatkan iming2 dari klien yang menjanjikan jika berhasil akan direkomendasikan ke tempat lain. Lebih fatalnya lagi ketidakmampuan dari programmer untuk membuat proposal, sekalipun bisa membuat tetapi faktor fundamental tidak terdefinisi dengan jelas, seperti scope pekerjaan.

Kondisi ini menjadi lingkaran setan bagi kedua belah pihak yang akhirnya mengakibatkan kegagalan dan hampir dipastikan menyebabkan hubungan yang tidak harmonis di kemudian hari. Ada dua kesalahan dari persepsi di atas, pertama dari sisi klien yang menganggap bahwa mahasiswa yang kuliah di fakultas informatika semuanya mampu menjadi programmer untuk merancang suatu aplikasi. Dari satu sisi memang benar setiap mahasiswa mendapatkan kuliah mengenai programming tool tetapi kualitas dalam perancangan, trick programming, dan solusi yang diberikan belum profesional dan mature. Kedua, programmer “green” biasanya memegang prinsip “AKS” (asal klien senang) semua permintaan akan disanggupi dan dikerjakan. Akibat dari kebaikan hati sang programmer akan menuai request yang tiada berhenti dari klien mulai dari pembuatan laporan, perubahan database, modifikasi bisnis proses, sampai untuk membeli dan membetulkan komputer. Bisa ditebak akhirnya, sang programmer stress, HP sulit dihubungi, dan terakhir menghilang dari peredaran.

Bagaimana seharusnya respon programmer pemula? Beberapa tips ini mungkin bisa membantu:

  1. Ajaklah temen anda yang relatif senior untuk mendampingi, minimal pada saat pertemuan awal dengan klien dalam penentuan scope pekerjaan. Penentuan scope pekerjaan HARUS jelas sehingga anda mengetahui indikator berhasil atau tidaknya dari pekerjaan. Berbagi hasil adalah hal yang lumrah, anda mendapatkan pengalaman, teknik negosiasi, dan memiliki tempat untuk bertanya.
  2. Buatkan proposal secara tertulis, jangan pernah hanya perkataan atau gentlemen agreement meskipun klien tersebut kolega anda. Mintalah Surat perintah kerja (SPK) sebagai dasar komitmen klien dan anda bekerja. Cantumkan nilai dari pekerjaan, waktu, dan batasan yang anda minta.
  3. Komunikasikan setiap progress pekerjaan kepada klien terutama setiap kendala dan masalah yang terjadi. Jangan sampai terakumulasi dan meledak ditengah jalan. Minta waktu khusus untuk mempresentasikan progress yang telah dicapai.
  4. Berikan garansi dan manual setelah dilakukan implementasi.

Percayalah bahwa Pengalaman tetap menjadi guru yang terbaik.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: