Posted by: jsofian | May 9, 2008

Menuju Negeri Harapan


Hemat Dwi Nuryanto *)

Masih adakah potret negeri harapan didalam benak dan sanubari rakyat ? Mestinya para pemimpin dari berbagai tingkatan mampu memberikan gambaran tentang negeri harapan yang akan dituju. Karena potret itu bisa menjadi generator atau pembangkit kemajuan. Pemimpin formal pertama bangsa ini merupakan salah satu contoh sosok yang piawai dalam melukiskan negeri harapan pada masanya. Kepiawaiannya itu membuahkan gelora jiwa dan semangat rakyat hingga harkat dan martabat bangsa ini terangkat dalam posisi terhormat diantara warga dunia. Potret negeri harapan juga akan membentuk budaya ekonomi yang arif, kompetitif dan cerdik mengambil peluang.

Pada era sekarang ini untuk mewujudkan negeri harapan tidak harus membutuhkan orang atau tokoh yang luar biasa. Orang biasa sekalipun, asalkan memiliki mimpi yang luar biasa dan kerja detail yang luar biasa akan berhasil menuju negeri harapan. Salah satu sosok yang mampu menuju negeri harapan skala desa adalah ibu Katrina. Dia adalah sosok rakyat jelata yang memiliki mimpi dan kerja detail yang luar biasa. Dia adalah ibu yang “melahirkan” pepohonan di tanah bebatuan yang tandus dan gersang dengan daya upayanya sendiri. Perempuan miskin yang tidak lulus SD itu menerima penghargaan Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan. Karena dinilai telah berjasa menghijaukan lahan kritis dengan tanaman keras, seperti Cendana, Lame, Mahoni, Johar, dan Kemiri yang mana semua itu memiliki nilai ekologi dan ekonomi yang sangat besar dimasa depan. Nilai ekologis atau intrinsik dari pohon-pohon Ibu Katrina ternyata jauh lebih besar dari nilai nominalnya. Salah satu nilai intrinsik tersebut adalah pulihnya kembali siklus hidrologi yang selama bertahun-tahun telah menghilang.

Bagi segenap warga negara, utamanya yang telah mengecap pendidikan yang cukup mestinya terinspirasi langkah Ibu Katrina menuju negeri harapan. Apalagi kekuatan konvergensi teknologi semakin mendatarkan dunia seperti yang digambarkan dalam buku The World Is Flat, karangan Thomas L.Friedman. Kekuatan konvergensi itu bisa membantu mewujudkan negeri harapan dalam tempo yang lebih singkat. Yang lebih istimewa lagi, kekuatan konvergensi itu ternyata banyak yang diciptakan oleh kaum belia. Antara lain Sergey Brin dan Larry E.Page sang pendiri Google. Hingga saat ini Google berusaha menjadikan dirinya sebagai perusahaan yang memiliki misi mengelola sesuatu yang sangat luas dan tak terbatas. Contoh lain si pencipta kekuatan konvergensi adalah Mark Zuckerberg, sang belia yang mendirikan Facebook sebagai jejaring komunitas sosial yang sangat populer. Sosok-sosok belia diatas selain membuat dunia semakin datar sekaligus juga menjadikan dirinya masuk dalam deretan orang terkaya di dunia.

Semakin mendatarnya dunia secara otomatis memangkas waktu bagi semua pihak untuk mengejar ketertinggalanya menuju negeri harapan. Saya jadi teringat tesis Prof. Srihardjoko seorang pakar mesin produksi dari ITB. Pada saat seminar nasional CAD/CAM beberapa tahun yang lalu beliau menyampaikan pendapat bahwa meskipun kondisi daya saing bangsa Indonesia lumayan jeblok dibanding negara-negara maju (developing/most-developing country), tetapi kita tidak perlu kehilangan harapan terkait dengan peluang masa depan. Negara berkembang dan terbelakang punya harapan yang sama baiknya dengan negara-negara maju. Hanya tantangannya saja yang berbeda. Dimasa mendatang setiap bangsa akan berkompetisi pada suatu tingkat daya saing tertentu yang lebih tinggi dari yang sekarang dimiliki oleh bangsa termaju sekalipun. Artinya, negara maju tetap perlu meningkatkan daya saing-nya sedangkan negara berkembang atau kurang-maju harus melakukan dramatical improvement dari sisi daya saing-nya. Tantangan negara maju adalah perlu meningkatkan daya saing dengan tetap harus menekan berbagai komponen biaya. Bila kondisi harga bahan baku atau barang jadi menuju pada level yang setara baik di negara maju dan berkembang ( contoh : harga minyak mentah dan harga perangkat komputer yang hampir sama dibelahan bumi manapun), implikasinya begitu sulitnya menekan biaya tenaga kerja seperti gaji dan fasilitas sosial tenaga kerja di negara-negara maju. Sebaliknya, bagi negara-negara berkembang harus melakukan peningkatan daya saing secara dramatis (dramatical improvement), namun terdapat ruang atau berkah untuk meningkatkan gaji lima hingga 20 kali lipat besaran gaji yang sekarang. Sebagai contoh kasus, dalam industri pengembang software di tanah air, rasanya dengan meningkatkan standar gaji tiga sampai dengan sepuluh kali lipat dari besaran yang sekarang ini, akan mudah untuk mendapatkan tenaga kerja dengan daya saing setara dengan tenaga kerja di negara maju. Dalam lintasan abad, kita bisa menyimak sejarah perkembangan bangsa-bangsa di dunia. Perjalanan dari negara kurang maju sampai menjadi maju terlihat siklusnya semakin pendek. Pada era peradaban Mesir kuno perlu beberapa ribu tahun, Peradaban Romawi dan Yunani dalam order kurang dari seribu tahun, Peradaban Islam sepanjang 700-an tahun, dari Renaisasnce hingga kecemerlangan Eropa kurang dari 400 tahun, Amerika Serikat perlu sekitar 200-an tahun, Jepang kurang dari 100 tahun, dan kejayaan Republik Rakyat China bakal menjadi fenomena yang sangat menarik karena butuh waktu efektif kurang dari 50 tahun (mulai dari revolusi kebudayaan).

Untuk menuju negeri harapan selain dibutuhkan langkah improvisasi dramatis dalam hal daya saing juga diperlukan pemberdayaan otak kanan segenap warga bangsa. Ilmu pengetahuan telah menerangkan bahwa garis neurologis didalam otak kita terbagi menjadi dua hemisfer yakni belahan kiri dan kanan. Berkat kemajuan teknologi fungsional gelombang magnetik, para ilmuwan mulai mengidentifikasi secara lebih tepat tanggung jawab masing-masing belahan otak tersebut. Belahan kiri bertugas menangani urutan, huruf, dan analisa. Sementara itu, belahan kanan bertugas memelihara konteks, ekspresi, emosi, dan sintesis. Ternyata otak manusia terdiri dari 100 miliar sel yang membentuk satu triliun sambungan berupa neuro-transmiter atau kalau dalam jagad komputer setara dengan sepuluh pangkat sembilan megabytes. Dua belahan otak bekerja secara bersama, namun mempunyai fungsi yang berbeda. Selain itu juga diketahui pada saat otak kanan sedang aktif bekerja maka otak kiri cenderung lebih rileks, demikian pula sebaliknya. Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, imajinasi, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika. Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk mengunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Setiap belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya sama-sama terlibat dalam hampir semua proses pemikiran. Kemampuan yang membawa seseorang sukses di bidang akademis dan profesi diyakini sebagai ciri-ciri dari belahan otak kiri. Ciri-ciri itu antara lain diwarnai berbagai bakat perhitungan linear, logis, dan analitis. Namun, kondisi dunia yang semakin mendatar, dibanjiri oleh data, dan ditodong oleh berbagai pilihan, maka memberdayakan otak kanan semakin penting. Kerena belahan otak itu memberikan kemampuan artistik, empati, melihat gambaran besar, dan kemampuan untuk menelusuri hal-hal yang bersifat transenden. Beberapa ilmuwan sosial baru-baru ini menyatakan bahwa pada saat ini Indonesia sedang mengalami kemiskinan imajinasi. Akibatnya bangsa ini semakin sulit menangkap peluang globalisasi. Tak kurang dari Daniel Pink, pengarang buku A Whole New Mind : Moving From The Information Age To The Conceptual Age ( Pikiran yang sepenuhnya Baru: Bergerak dari Abad Informasi ke Abad Konseptual dan Talenta), menerangkan betapa pentingnya memberdayakan otak kanan segenap warga bangsa. Agar langkah menuju negeri harapan semakin nyata.

*) CEO ZamrudTechnology, Founder IGOS Center Bandung & Yayasan Indonesian Open Innovation


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: