Posted by: jsofian | October 5, 2008

Mengukur Perilaku dengan DISC Tool


Dalam sebuah organisasi, salah satu tantangan yang selalu menjadi pembicaraan klasik adalah bagaimana mengatur (manage) sumber daya manusia agar selaras dengan visi yang telah ditetapkan oleh organisasi. Pasalnya, jika renstra sudah terdefinisi dengan baik, sistem dan teknologi informasi menunjang, tetapi tidak memiliki sumber daya manusia yang kompeten, maka organisasi tersebut yang berjalan pincang. Oleh karenanya, dalam manajemen modern sumber daya manusia disebut juga secagai human capital bagi organisasi. Nah..ketika organisasi sepakat untuk menempatkan SDM sebagai komponen yang penting  maka muncul pertanyaan berikutnya bagaimana mendapatkan SDM yang kompeten dan klop dengan organisasi. Tugas ini merupakan bagian dari orang HRD dalam menyusun HR Strategic Plan. HR Strategic plan merupakan turuan dari Corporate Strategic Plan yang meliputi fungsi HR dalam Planning (organization strategy, manpower planning strategy),  Acquiring (Recruitmen & Selection), Developing (Career strategy, TNA, competency Dev Strategy, dll), Maintaining ( C&B strategy, corp. family), dan Retaining (Retirement analysis).

 

Masing-masing dari proses diatas memiliki tool tersendiri sebagai metode untuk pencapaian obyektif di setiap komponen. Salah satu tool yang menarik perhatian saya adalah DISC tool. DISC kepanjangan dari Dominance, Influence, Steady, dan Compliance, tool ini memetakan perilaku manusia ke dalam 4 kategori tersebut. Dengan mengetahui dan memahami 4 perilaku ini maka efektifitas dalam berkomunikasi antara sesama dapat jauh lebih berkualitas karena pendekatan yang dipakai berbeda satu dengan yang lain.

 

Dari sejarah diketahui bahwa sesungguhnya pemetaan perilaku manusia sudah dilakukan sejak jaman dahulu kala dimana ahli Yunani Empodocles (444 BC) telah mengelompokan perilaku manusia dalam Api, Udara, Air, dan tanah (bumi). Saat itu factor eksternal manusia dianggap yang menjadi pemicu yang membedakan seseorang yang satu dengan yang lain. Mazab Hippocrates 400 BC lain lagi, filsuf ini menyimpulkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh internal elemen berupa cairan di dalam tubuh manusia, sehingga dibagilah perilaku manusia dalam Sanguinis, pleghmatic, melancholic, dan choleric.

 

Sejak saat itu, para ahli terus melakukan observasi untuk menyempurnakan hasil temuan dari para filsuf sebelumnya sebut saja Carl G Jung yang membagi manusia dalam kategori ektrovert, introvert, thinking, dan feeling. Kemudian William M Marston di tahun 1928 mempopulerkan dengan terminology DISCnya. Terakhir Walter Clarke 1950an yang menemukan behavior style assessment berdasarkan DISC temuan Marston.

 

Pekembangan DISC sebagai assessment tool terus dikembangkan dan dipakai oleh banyak pihak, bukan saja untuk tujuan clinical tapi sudah terbukti dapat diterapkan dalam perusahaan, komunitas, dan bisnis. Dengan tingkat akurasi antara 83%-95% dan predictive validity 0.89 dengan standar deviasi 0.065, DISC telah mampu menggantikan tool konvesional seperti yang dahulu popular “draw the tree” atau metode wartagg.

 

Bagi saya, DISC merupakan tool yang ampuh karena dapat dipelajari oleh orang awam non psikolog, yang lebih menantang DISC dapat dikembangkan untuk semua aspek dalam kaitan dengan perngelolaan sumber daya manusia.


Responses

  1. […] stratejik sistem informasi, dan hari ketiga oleh Sofian membahas instrumen asesmen SDM yaitu DISC […]


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: