Posted by: jsofian | July 10, 2009

SDN 10 Pangkalpinang menuju SBI


Foto dgn Kepsek SDN 10 Pangkalpinang
Foto dgn Kepsek SDN 10 Pangkalpinang

Anak laki-laki saya, saat ini berumur 4 tahun. Seperti kebanyakan anak sebayanya, sebagian besar waktu dihabiskan dengan bermain dan mengekplorasi hal-hal yang baru. Ada hal yang menarik dari anak saya dalam mengenal teknologi informasi, sejak usianya 3,5 tahun, ia sudah fasih untuk melakukan booting dan shut down laptop saya, mulai dari mengetik password login sampai memilih games yang ia sukai. Jenis games yang dikuasi sudah berjumlah belasan sebut saja ada games chicken invander, freding frenzy, charma, A-ball, Aqua ball, galaxytoball, bowling, Crab effect, dan masih banyak lain. Beberapa dari games tersebut, dia sangat fasih dan saya harus akui terkadang sulit mengalahkannya. Jika bosan bermain games, ia pun beralih ke aplikasi yang lain seperti mengetik abjad di aplikasi office word, office powerpoint untuk gambar, dan office excel untuk belajar angka. Pengenalan abjad dan angka serta hitungan sederhana sudah dikuasinya. Aktivitas belajar ini sudah menjadi aktivitas rutin menjelang tidur atau sepulang dari sekolah. Lain lagi dengan anak sahabat saya yang sudah menginjak kelas 3 sekolah dasar, teman setia dalam kesehariannya adalah google, yahoo, facebook, yahoo messager, dan game online.

Realita ini saat ini sudah bukan menjadi hal yang aneh bagi anak-anak sekarang yang lahir pada tahun 2000 an, dimana teknologi informasi khususunya internet sudah menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Perkembangan internet yang nyaris tidak terbendung ternyata mempengaruhi kehidupan di semua tingkatan masyarakat, ini terlihat dari bagaimana pola dan cara  mereka berinteraksi, berkomunikasi, dan belajar. Para pakar internet menyebutnya sekarang adalah era net generation. Sejatinya ada tiga era yang secara signifikan dapat diklasifikasikan, pertama era baby boom (setelah Perang Dunia II) yang lahir antara 1946 – 1964, teknologi yang mempengaruhi generasi ini adalah televisi. Kedua, era yang disebut dengan era baby bust ( generation X) , yang lahir antara tahun 1965 – 1976. Generasi ini banyak dipengaruhi oleh teknologi komputer. Ketiga, era baby echo (Net Generation atau Gen Y atau Millenial ), yang lahir pada tahun 1977 – sekarang. Generasi ini sangat dipengaruhi oleh teknologi internet. Fakta ini diperkuat oleh survei yang menyatakan bahwa saat ini 50% populasi dunia didominasi oleh anak muda berumur dibawah 25 tahun. Dari populasi tersebut sekitar 21 juta menggunakan internet dan setengah diantara mereka mengakui online setiap hari. Apa yang mereka kerjakan di dunia maya ?

  1. 81% diantara mereka aktif bermain game online ( meningkat 52% dibandingkan 4 tahun yang lalu),
  2. 76% membaca berita online ( meningkat 38% dibandingkan dengan 4 tahun yang lalu)
  3. 43% mengakui bertransaksi online (meningkat 75% dibandingkan dengan 4 tahun yang lalu).
  4. 97% perempuan ( berumur 15-17 tahun) aktif menggunakan instant messaging.

Fenomena ini menarik untuk dicermati, karena perilaku net generation ini mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan di dalam masyarakat, sekolah, bahkan bisnis. Karena informasi yang dapat diakses semakin besar, generasi ini menginginkan kebebasan berekpresi dan memilih sehingga dampaknya mereka menjadi sangat kreatif dan cerdas. Mereka ingin didengar inspirasinya, ingin dilibatkan dalam banyak kegiatan, dan menginginkan kecepatan dalam pelayanan.  Menurut Don Topscoot dalam buku Grow up Digital ( maret 2009), menyebutkan ada delapan karateristik dari net generation ini, yaitu: mereka menyukai kebebasan, suka memodifikasi sesuatu, transparan, memiliki integritas, suka dilayani, suka berada dalam kelompok (tim), cepat merespon, dan selalu ingin berinnovasi. Tanpa disadari, kemajuan teknologi informasilah telah menjadi mereka sebagai manusia super dan unggul dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Tetapi ada sisi gelap dari generasi ini yang perlu disikapi secara bijak, diantaranya  adalah tidak bisa fokus pada satu hal tertentu, kurang peduli dengan kesehatan, tidak memiliki privacy, sering melanggar intellectual property right, terkadang bersikap kasar dan kejam (pengaruh video game), tidak memiliki etika, menjadi narsis, dan acuh tak acuh terhadap lingkungan. Dengan memahami sisi terang dan gelap net generation ini, tentu saja akan sangat membantu bagi institusi yang ingin menentukan strategi dan cara merespon ketika berhadapan dengan mereka.

sdn 10 3Karena saya berkecimpung di dunia pendidikan, jelas era ini menjadi tantangan tersendiri. Tantanganya adalah bagaimana institusi pendidikan menyikapi net generation ini dalam proses belajar mengajar. Perlukah para pendidik menyesuaikan diri sehingga proses pembelajaran dapat lebih efektif dan tepat sasaran ?. Sama seperti anak saya, yang sangat menikmati proses pembelajaran pengenalan abjad, angka, dan bentuk dalam sebuah games  dibandingkan dengan melihat di buku secara konvensional. Menurut saya sudah saatnya institusi pendidikan memuktahirkan metode pembelajaran agar anak didiknya lebih produktif. Awalnya saya berasumsi tantangan ini menjadi hambatan sekaligus ancaman bagi institusi pendidikan karena bersinggungan dengan perubahan paradigma dan budaya institusi. Ternyata Oppss.. saya keliru besar.

Bulan Juni 2009 kemaren, saya sempat berkunjung ke SD Negeri 10 Pangkalpinang dalam rangka mendampingi kunjungan guru besar dari Malaysia ke Pangkalpinang. Saya sempat terperangah melihat proses belajar mengajar di sekolah ini. Ternyata tanpa disadari, sekolah ini telah mengantisipasi para net generation (para murid) di sekolah, inilah beberapa indikatornya adalah:

  1. Metode pembelajaran mulai beralih dari metode kelas kepada metode partisipan (collaborative learning) , ini terlihat dengan adanya pelajaran di workshop (bengkel) dimana para siswa (berkelompok) diberikan kebebasan untuk merancang dan bereksperimen dalam pembuatan pesawat terbang, rumah, kapal laut, dan sebagainya. Terlihat jelas, ini dapat menjadi stimulus bagi para siswa untuk menampilkan daya kreativitas, imaginasi, dan inovasi dalam menghasilkan sebuah karya.
  2. Sekolah ini memiliki laboratorium untuk belajar bahasa Inggris dengan menggabungkan multimedia (audio dan visual) dengan dibantu oleh guru sebagai tutor. Terlihat metode interactive learning ini menjadikan para siswa anthusias dalam belajar.
  3. Menjalin kerjasama dengan sekolah dasar di luar negeri dalam bentuk sekolah kembar (sister school) untuk menambah dan mengembangkan wawasan para siswa dan guru.
  4. Memasukan pelajaran teknologi informasi dan  internet dengan memanfaatkan infrastruktur dari PECC ( Pangkalpinang Eduction Cyber City). Dengan adanya fasilitas internet, para siswa dapat diarahkan untuk menulis blog dan sharing informasi dengan teman-teman baik di sekolah atau dengan sekolah kembarnya di luar negeri (personalized learning).

workshop sdn 10 2Saya boleh berbesar hati, ternyata di kota kelahiran saya Pangkalpinang tidak kalah majunya dalam hal pendidikan dibandingkan dengan kota metropolitan di Jakarta atau di Kuala lumpur. Maju terus Kotaku Pangkalpinang.


Responses

  1. Salam kenal Pak Jonathan saya suka banget artikel ini, semoga semua sekolah mempunyai sistem belajar seperti di sekolah ini.

  2. Salam kenal Pak Jonathan saya suka banget artikel ini, semoga semua sekolah mempunyai sistem belajar seperti di sekolah ini.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: