Posted by: jsofian | February 20, 2011

Positivism ala Auguste Comte


Auguste Comte dilahirkan di Montpellier, Perancis pada tahun 1798. Comte berasal dari kaum bangsawan. Sejak mahasiswa ia dikenal sebagai pemberontak dan akhirnya dipecat karena mendukung Napoleon.  Dalam karir prefesionalnya, Comte memberikan pelatihan di bidang matematika walaupun perhatian sebenarnya adalah pada masalah-masalah kemanusiaan dan sosial.  Dalam perjalanan karirnya, ia banyak dipengaruhi oleh Saint Simon yang mempekerjakannya sebagai sektreataris, walaupun pada akhirnya mereka masing-masing memiliki pandangannya sendiri. Sumbangsih nyata dari Comte terhadap perkembangan filsafat dibarengi pula oleh sumbangan pemikirannya terhadap sosiologi. Awal munculnya aliran positivism didasarkan kepada kepercayaan terhadap hukum-hukum alam sebagai kendali terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, dari dasar pemikiran ini kepercayaan terhadap takhayul, ketakutan, kebodohan, dan paksaan, dan konflik sosial dihilangkan dari masyarakat. Pandangan inilah yang menjadi awal kelahiran aliran positivism.

Positivism yang dikenalkan oleh Comte ( 1798 – 1857) tertuang dalam karya utamanya yang berjudul Cours de Philosophic Positive (1830 – 1842) , yaitu kursus tentang filsafat positif yang diterbitkan dalam enam jilid.  Selain itu karya lainnya berjudul Discour L’esprit Positive (1844), yang artinya pembicaraan tentang jiwa positif.  Dalam karya ini, Comte menjelaskan secara singkat pendapat-pendapat positivis, hukum stadia, klasifikasi ilmu-ilmu pengetahuan dan bagan mengenai tatanan dan kemajuan. Positivism berasal dari kata positif yang diartikan secara faktual adalah apa yang didasarkan fakta-fakta. Menurut positivism, pengetahuan tidak boleh melebihi fakta-faktanya. Dengan demikian,ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Artinya, filsafat pun harus meneladani contoh tersebut. Dengan dasar ini aliran ini menolak cabang filsafat metafisika. Menanyakan “hakikat” benda-benda atau “penyebab yang sebenarnya” bagi positivism tidaklah mempunyai arti apa-apa. Ilmu pengetahuan termasuk filsafat, hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungannya yang terdapat diantara fakta-fakta. Tugas khusus filsafat adalah mengkoordinasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang aneka ragam. Positivism tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah.. Isi dari aliran positivism ini dirumuskan sebagai berikut: [COMTE 2005]:

  1. Perspektif positivism tentang masyarakat. Comte percaya bahawa penemuan hukum alam itu akan membukakan bata-batas yang pasti dalam kenyataan sosial (inheren), dan jika melampaui batas-batas itu, usaha pembaharuan akan merusakkan dan menghasilkan yang sebaliknya.
  2. Auguste Comte mempercayai panca indra itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indra akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen membutuhkan ukuran-ukuran yang jelas. Seperti panas diukur dengan ukuran panas, jarak dengan ukuran meteran, berat dengan ukuran kiloan, dan sebagainya.
  3. Perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah sebagai puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis yang telah dilewati oleh ilmu-ilmu lainnya.
  4. Dalam pendekatan positivism, metode yang digunakan dalam merumuskan suatu teori atau hukum terdiri dari empat tahapan yaitu tiga tahapan pertama berkenaan dengan pengamatan, eksperimen, dan perbandingan. Sedangkan tahapan keempat analisis historis, yang meruapakan suatu metode khusus untuk gejala sosial yang memungkinkan suatu pemahaman mengenai hukum – hukum dasar perkembangan sosial.
  5. Perkembangan masyarakat melalui evolusi tiga tahapan utama yaitu teologis, metafisik, dan positif.
    1. Teologis atau fiktif, merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia yang dikaitkan dengan isu-isu supranatural. Tahapan dimana manusia menafsirkan gejala – gejala disekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan oleh kekuatan supranatural. Penafsiran ini penting bagi manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memusuhinya dan untuk melindungi dirinya terhadap faktor-faktor yang tidak terduga.
    2. Metafisik atau abstrak, hanya suatu keadaan peralihan atau bentuk lain dari teologis menuju tahapan positif. Tahapan ini ditandai dengan kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya dapat diungkapkan.
    3. Positif atau ilmiah, pemahaman dalam keadaannya yang pasti dan tidak tergoyahkan yang ditandai dengan kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir.
  6. Prinsip keteraturan sosial yang dianalisa oleh aliran positivism dibagi dua yaitu usaha untuk menjelaskan keteraturan sosial secara empiris dengan menggunakan metode positif, dan usaha untuk meningkatkan keteraturan sosial sebagai suatu cita-cita yang normatif dengan menggunakan metode-metode yang bukan tidak sesuai dengan positivismm tetapi yang menyangkut perasaan juga intelek.
  7. Suatu ilmu pengetahuan positif, apabila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan kongkret, tanpa ada halangan dari pertimbangan-pertimbangan lainnya. Hierarki atau tingkatan ilmu pengetahuan menurut tingkat pengurangan generalisasi dan penambahan kompleksitasnya adalah: Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi, dan Sosiologi.

Penilaian Comte terhadap sosiologi adalah merupakan ilmu pengetahuan yang paling kompleks dan merupakan suatu ilmu yang akan berkembang dengan pesat. Sosiologi merupakan studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial.

Aliran positivism adalah aliran filsafat yang berpangkal pada fakta yang positif, sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Positivism bukanlah suatu aliran yang berdiri sendiri, aliran ini menyempurnakan emperisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, Positivism menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi pada dasarnya positivism sama dengan empirisme ditambah rasionalisme.

DAFTAR PUSTAKA

[ATANG & BENI, 2008] Atang Abdul Hakim, Beni Ahmad,”Filsafat Umum: dari meteologi sampai Teofilosofi”,Pustaka Setia, 2008

[COMTE 2005] Auguste Comte,” The Nature and importance of the positive philosophy,’ Edited by Robert  C Sharff and Val Dusek, Blackwell, 2005


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: