Posted by: jsofian | March 1, 2011

Berfilsafat yuk..


Mencermati dari perkembangan ilmu filsafat, berarti juga mempelajari para filosof  dengan berbagai pandangannya. Kebebasan setiap orang mendefinisikan filsafat menyebabkan berbagai definisi bermunculan sehingga wajar saja jika perbedaan dalam mendefinisikan diantara para filosof. Perbedaan ini diakibatkan karena pengalaman pribadi, situasi, kondisi, dan lingkungan yang dihadapi. Namun secara umum banyak pendapat yang mengatakan bahwa filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Pendefinisian dari filsafat menjadi dalam setiap era memiliki tafsiran yang beraneka macam dan beragam, secara filosofis, kesukaran dalam pemberian definisi filsafat disebabkan beberapa faktor yaitu[ ATANG, 2008].

  1. Setiap orang berhak memberikan definisi filsafat sesuai dengan pengetahuan sebatas yang diketahuinya. Oleh karena itu, perbedaan dalam memberikan definisi menjadi sesuatu yang lazim dan wajar.
  2. Setiap filosof memiliki pengalaman masing-masing dengan kehidupan yang dihadapinya dan definisi dapat diangkat dari berbagai situasi dan kondisi yang beragam sepanjang berkaitan dengan realitas kehidupan empirik para filosof.
  3. Filsafat sering dimaknakan secara luas untuk semua ruang lingkup pengetahuan yang ujung-ujungnya berakhir dengan anggapan bahwa filsafat merupakan induk ilmu pengetahuan.
  4. Filsafat juga dilegalisasikan secara rasional sebagai pembuat ideologi dan kenyakinan tertentu, bahkan ada yang berpandangan bahwa agama tercipta dari filsafat.
  5. Batasan bagi filsafat sekadar mendudukkan filsafat sebagai objek kajian dalam ilmu pengetahuan, meskipun filsafat berbeda dengan ilmu dan dengan pengetahuan.
  6. Setiap orang yang memberikan pencerahan pemikiran dan hikmah bagi kehidupan manusia dikatakan sebagai filosof.

Dalam perkembangannya, filsafat terus menemukan hal-hal baru yang mengikuti dari masa ke masa. Sifat filsafat dapat ditunjukan dengan tidak pendekatan yaitu pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ontologi adalah teori hakikat yang mempertanyakan setiap ekstensi. Epistemologi teori pengetahuan atau teori tentang, metode, cara dan dasar dari ilmu pengetahuan atau studi tentang hakikat tertinggi, kebernaran, dan batasan ilmu manusia. Dengan kata lain epistemologi adalah bentuk cabang filsafat yang meneliti, asal, struktur, metode-metode, dan kesahihan pengetahuan.  Sedangkan aksiologis, berkaitan dengan manfaat dan faedah yang akan diberikan bagi kehidupan manusia baik secara estetika atau nilai materiilnya.  Jika ditinjau secara umum, maka dapat dinyatakan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan filsafat diantaranya sebagai berikut:

  1. Sesuatu yang bersifat metafisik yang dapat dilihat oleh kasat mata.
  2. Alam semesta yang fisikal dan berbentuk oleh hukum perubahan.
  3. Segala sesuatu yang rasional dan irasional
  4. Semua yang bersifat natural maupun suprantural.
  5. Akal, rasa, pikiran, intuisi, dan persepsi.
  6. Hakikat yang terbatas dan yang tidak terbatas.
  7. Teori pengetahuan pada semua keberadaan pengetahuan manusia yang objektif maupun subyektif.
  8. Fungsi dan manfat segala sesuatu yang didambakan manusia atau dihindarinya.
  9. Kebenaran spekulatif yang bersifat rasional tanpa batas sehingga berlaku pemahaman dialektis terhadap berbagai penemuan hasil pemikiran manusia. Oleh karena itu para filosof berusaha menyusun sebuah metode untuk mendapatkan pengakuan universal atau mempertahankan kelayakan filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu.

Diantara para filosof tersebut adalah:

  • Plato (427-437 SM) yang menitikberatkan pada filsafat dengan metode dialetik, yaitu dua orang yang sedang berdialog melemparkan pertanyaan dan memberikan jawaban secara bergantian.
  • Aristoteles (384-322 SM) dikenal karena metode silogisme atau logikanya, dengan menggabungkan pembelajaran dan penyangkalan terhadap sebuah ilmu. Aritestoles menerangkan hukum-hukum dan ketetapan untuk menjerihkan dan Francis Bacon mengkritik pendapat Aristoteles dengan mengganggap pendapat Aristoteles kurang aturan dan prinsip yang berguna untuk menetapkan hukum penalaran ilmiah.
  • Thomas Aquinas dengan teori metode <em>Thomsmistek </em>yang berisikan persoalan yang harus dijawab dalam bentuk sebuah pertanyaan.
  • Rene Descater, seorang ahli matematika Prancis yang prihatin atas kurangnya metode filsafat, akhirnya ia menyusun metode sendiri dengan sebutan metode ragu-ragu. Metode ini dipergunakan untuk menghapus keseluruhan bangunan Ilmu dan digantikan dengan bangunan filosofis baru yang sudah dicoba bebas dari keraguan. Beliau juga disebut sebagai bapak Filsafat Baru  ketika menulis buku Principles of Philosophy.
  • David Home, menggunakan metode eksperimental yang digunakan oleh kaum imperalis. Metode ini banyak menguraikan cara-cara dengan melaksanakan aktivitas berupa observasi tingkah laku dan intropeksi proses-proses psikologis
  • Immanuel Kant, Metode kritis transendental merupakan analisis kriteriologis yang berpangkal kepada obyektif.  Nilai objektif  ilmu positif diterima kara menghasilkan kemajuan dalam kehidupan sehar-hari.
  • Auguste Comte, aliaran <em>positivism </em>yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh dilebihi fakta-fakta. Dengan demikian ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan.

Filsafat sebagai induk pemikiran ilmiah selalu berada dibelakang kemajuan suatu peradaban atau era.  Perkembangan filsafat diawali dari  periode Yunani (klasik). Pada masa Yunani yang dikaji sejak masa Yunani Kuno (600 SM – 200 SM) dimana nama-nama Filosof yang tercatat seperti Thales ( perubahan karena azas air), Anaximandros, Anaximenes (perubahan karena azas udara),  , Herakleitos (perubahan karena azas api),, Pythagoras ( Dalil Pythagoras) , Perminides ( teori metafisika), dan Demokritos (teori atomisme). Filosof pada zaman ini, menjadi tonggak sejarah dan permulaan dalam berbagai ilmu pengetahuan seperti Anatomi, Botani, Zoologi, Metalurgi, Matematika, dan Geometri. Setelah zaman Yunani, mulailah didirikan sekolah filsafat yang dipelopori oleh Plato (murid dari Socrates). Sekolah yang didirikan dinamakan Akademia. Dalam filsafatnya Plato menentang realisme karena apa yang dinyatakan benar menurut  realisme ialah yang dapat diamati oleh indra, tetapi sebenarnya adalah bayangan. Oleh karena itu, Plato membagi dunia realitas menjadi dua bagian yaitu dunia gagasan yang hanya terbuka bagi rasio (tidak dapat berubah dan telah sempurna) dan dunia jasmani yang hanya terbuka bagi indra manusia yang senantiasa berubah. Bentuk kongkretnya ialah tubuh dan jiwa. Murid dari Plato yang terkenal adalah Aristoteles, yang dikenal dengan teori bentuk – materi. Dalam teori ini dinyatakan bahwa setiap benda jasmani terdiri dari bentuk dan materi. Dari Plato kemudian  ditemukan berbagai teori dan berkembang pesat di berbagai tempat yang dibagi dalam periode Renaissance, periode Helenitas dan Romawi, periode Patristik, dan periode awal Skolastik. Pada periode-periode tersebut filsafat erat kaitannya dengan agama. Periode selanjutnya dikategorikan sebagai periode filsafat modern, yang dipelopori oleh Michelde Montaigne (1533 – 1592), seorang moralis bukan dari seseorang yang memiliki latar belakang ilmuwan. Dalam filsafat modern dikemukakan skeptisisme yang ditujukan untuk pendahulunya dan meragukan indra ataupun akal budi. Sebaliknya yang ditekankan ide  alam yang melekat di dalam diri manusia sebagai karakter, sikap moralis Montaigne banyak dipengaruhi oleh Jean Jacques Rousseau. Di dalam filsafat modern dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu:

  1. Rasionalisme, empirisme, dan Kritisisme.
    • Rasionalisme (Descartes, Wolf, dan Leibnitz), pemikir rasionalisme menuntut kenyataan sejati yang berdasarkan pada pemikiran.
    • Empirisme ( John Locke, Berkeley, dan Hume), pemikir empiris dari kaum rasionalis berpendapat bahwa dasar pengetahuan adalah sensasi yang berasal dari ransanggan-ransanggan yang berdasar pada pengetahuan. Suatu ilmu pengetahuan harus berkembang dari masa ke masa, sehingga tidak dapat ditolak ( bukan apriori namun aposteriori).
    • Kritisme ( Immanuel Kant), dalam ilmu pengetahuan  harus memiliki kepastian sehingga rasionalisme adalah benar. Ia menuntut ilmu pengetahuan harus berkembang dan maju yang didasari oleh kenyataan-kenyataan yang berkembang pula.
  2. Dialektika, idealisme, ( George Wilhelm Friedrich Hegel) dan dialetika materiaslime (Karl Marx). Aliran ini sangat berorientasi pada ilmu sejarah, ilmu alam, dan ilmu hukum.
  3. Fenomenologi (Edmud Husserl ) dan eksistensialisa.

Jika diikuti ilmu filsafat memiliki sejarah yang panjang sampai saat ini, masing-masing dari mazab tersebut memiliki pengikut setia dan perdebatan selalu terjadi untuk mempertahankan mazab yang dianut. Tapi yang menarik, para pakar sepakat bahwa Filsafat merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan yang ada di muka bumi ini. Bagi mahasiswa tingkat doktoral, filsafat meruapakan matakuliah wajib di semester I yang harus diambil, sempat saya berpikir mengapa harus mempelajari filsafat ? Bukannya ilmu ini semestinya dari di fakultan ilmu dan budaya? ternyata saya salah, justru ilmu filsafat erat kaitannya dengan metodologi penelitian dimana setiap metodologi memiliki paradigma yang bersumber pada ilmu filsafat.

Selamat berfilsafat ..


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: