Posted by: jsofian | January 5, 2015

Belajar Knowledge Management dari Pengalaman NASA


Semua orang sepakat bahwa prestasi yang paling mengagumkan dalam sejarah umat manusia adalah pendaratan manusia pertama di bulan. Presiden John F. Kennedy mengeluarkan janji ini pada tahun 1961 bahwa Amerika Serikat akan mendaratkan manusia di Bulan dan kembali dengan selamat ke bumi sebelum akhir dekade itu. Janji itu terealisasi pada bulan Juli 1969. Tentu saja untuk mewujudkan mimpi Sang Presiden, tidak hanya para pakar komputer dan teknologi yang terlibat, namun para ilmuwan dari peroketan, aerodinamika, sistem kontrol, komunikasi, biologi, dan disiplin ilmu lainnya berpikir keras dengan melakukan riset untuk dapat mewujudkan pendaratan ke Bulan. Jerih lelah luar biasa ini membawa kesuksesan besar dan dikenang oleh umat manusia sepanjang masa. Dari perspektif teknologi, ini merupakan hasil yang sukses luar biasa. Namun dari sisi lain, sesungguhnya ada penyesalan yang mendalam yang dirasakan NASA kala itu karena banyaknya pengetahuan yang hilang dan menguap begitu saja khsususnya dari tacit knowledge. Penyesalan ini diungkapkan oleh Sylvia Fries (mantan kepala sejarawan NASA) dalam perayaan memperingati 20th pendaratan manusia pertama kali di bulan. Ia mengatakan bahwa banyak peristiwa, pemikiran, konsesus, dan diskusi selama 20 tahun yang tidak tercatat dan hilang begitu saja sehingga tidak dapat dijadikan pembelajaran bagi generasi selanjutnya. Apa yang terjadi di NASA, Sebenarnya terjadi juga di Indonesia. Sebagai contohnya tidak diketahui bagaimana Candi Borobudor di buat, bagaimana memindahkan dan menyusun batu yang beratnya puluhan ton. Tidak ada catatan yang menceritakan tentang itu, oleh karena itu sampai sekarang masih dianggap sebagai misteri atau sebagian orang mengaitkan dengan hal-hal mistis untuk menemukan jawabannya. Namun, ceritanya berbeda ketika berkunjung ke Museum Nasional Taiwan. Banyak sekali catatan di setiap dinasti bahkan ada juga dari jaman pra sejerah Cina yang tercatat rapi. Setiap generasi dapat mengetahui bagaimana cari berburu, cara membuat rumah, cara berkomunikasi, cara mempertahankan diri, dan aktivitas lainnya dengan melihat simbol-simbol purbaka dan artefek. Dan yang terpenting adalah setiap generasi selanjutnya lebih cerdas karena mendapatkan pembelajaran dari generasi sebelumnya.

Kasus diatas memberikan pemahaman bahwa pengelolaan pengetahuan dari tacit menjadi explicit merupakan hal yang penting yang disadari atau tidak akan mempengaruhi keberhasilan dari organisasi. Hasil survei menunjukan bahwa ketrampilan organisasi mengelola pengetahuan yang menjadi salah satu kunci keberhasilan dari perusahaan yang masuk dalam Fortune Global 500. Peter Druckter menjelaskan bahwa Pengetahuan telah menjadi sumber daya utama untuk dapat menciptakan keunggulan kompetitif organisasi, jika tidak maka organisasi akan bergantung kepada sumber daya konvensional yaitu alam, tanah, tenaga kerja, dan modal. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sumber daya yang paling penting dari organisasi saat ini di era digital adalah pengetahuan kolektif (tacit) yang berada di benak karyawan, pelanggan, dan vendor.

“Knowledge has become the key economic resource and the dominant–and perhaps even the only–source of competitive advantage.”–Peter Drucker

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: